Selasa, 17 Mei 2011

Harga Sawit dan CPO


Kebijakan Bea Keluar (BK) minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) berimbas negatif terhadap pengusaha dan petani sawit.

Pasalnya, skema progresif yang menyebabkan tarif pajak ekspor CPO seiring dengan kenaikan harga CPO, ternyata berimbas pula kepada nilai penjualan harga TBS di tingkatan petani.

Berdasarkan data yang dipaparkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), tarif BK CPO sebesar tiga persen akan memangkas harga TBS Rp195 per kg, jika BK CPO dipatok 7,5 persen maka harga TBS petani turun sebesar Rp560 per kg. Kemudian, tarif BK CPO dipatok 10 persen, maka harga TBS tergerus sebesar Rp787 per kg.

"Penetapan BK CPO yang bersifat progresif merupakan beban tambahan yang membuat pelaku usaha kelapa sawit tidak dapat menikmati tingginya harga CPO," demikian seperti dikutip dalam keterangan tertulis Gapki kepada okezone, di Jakarta, Jumat (4/3/20111).

Pasalnya, baik petani dan perusahaan telah dikenakan kewajiban seperti PBB, PPh Pasal 22, PPN dan retribusi di tingkat daerah, inipun belum terhitung pungutan liar yang marak terjadi.

Menurut Gapki, kondisi inilah yang mengakibatkan industri kelapa sawit di daerah kesulitan meningkatkan hasil produksi karena beban biaya resmi maupun tak resmi tersebut.

Selain itu skema bea keluar progresif telah menyebabkan menurunnya daya saing industri sawit Indonesia di pasar internasional dan menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha industri sawit.

Atas dasar itu, Gapki mendesak pemerintah untuk meninjau kembali skema tarif BK CPO dari progresif menjadi flat, yakni tiga persen. Artinya, ketika harga CPO di atas USD700 per ton, ekspor CPO hanya dikenakan tiga persen. Dengan memakai tarif tiga persen, maka sudah dapat menutupi kebutuhan subsidi minyak goreng curah bagi rumah tangga miskin (RTM).

Ini tentu saja sejalan dengan tujuan penerapan BK CPO dalam PP No.55 ayat (1) Tahun 2008. Selain itu untuk mendorong industri hilir di dalam negeri, Gapki mengusulkan pemberlakuan bea keluar 0 persen bagi produk industri hilir.

Gapki juga meminta pula supaya pemerintah dapat mengembalikan sebagian dana hasil BK CPO langsung kepada industri sawit. Meskipun dari segi aturan sampai hari ini, keinginan tersebut sulit terwujud.

"Sudah selayaknya pelaku industri sawit nasional dari hulu hingga hilir memperoleh imbal balik yang dapat berupa pembangunan infrastruktur berupa jalan, tangki timbun dan pelabuhan CPO di sentra-sentra produksi sawit. Selain itu, BK CPO dapat pula membantu perkebunan," pungkas keterangan tertulis tersebut.sources:okezone.com
Harga Crude Palm Oil (CPO) kembali naik, setelah sempat melandai di bulan Maret 2011. Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO di bursa Chicago Mercantile Exchange (CME) untuk pengiriman Juni 2011 per 11 April 2011 berada di level US$ 1.140 per metrik ton (MT). Harga ini lebih tinggi 5,65% dibanding harga minggu kedua Maret 2011 yang masih di angka US$ 1.079 per MT.

Kembali naiknya harga CPO di bursa global diakibatkan oleh tingginya harga minyak dunia. Harga minyak dunia saat ini sudah melebihi US$ 111 per barel sebagai ekses dari konflik politik di Libia dan negara-negara Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.

Tingginya harga minyak dunia membuat permintaan CPO meningkat drastis untuk digunakan sebagai bahan baku bioethanol dan biofuel. Dua energi ini memang menjadi alternatif di tengah membubungnya harga minyak dunia. "Tingginya harga minyak dunia, membuat CPO akan terdorong," ujar Ryan Long, trader OSK Investment Bank, Bhd. seperti dikutip Bloomberg, akhir pekan lalu.

Permintaan minyak sawit global di 2011 tetap akan meningkat akibat penurunan produksi minyak kedelai. Namun karena tidak diimbangi dengan produksi yang cukup, harga CPO bakal bertahan di US$ 1.000-1.200/ton.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan dalam siaran pers, Senin (24/1/2011).

"Beberapa analis dunia memperkirakan kebutuhan minyak sawit dunia akan bertambah antara 2-3 juta ton pada 2011. Walaupun permintaan naik, diperkirakan suplai minyak sawit tidak dapat mengimbangi permintaan, sehingga harga CPO akan tetap bertahan antara US$ 1.000-1.200/ton sampai semester I-2011," tutur Fadhil.

Meski begitu, Fadhil mengatakan, industri sawit Indonesia mengalami tujuh hambatan utama di 2011. Penambahan produksi minyak sawit dunia diperkirakan mencapai 2,5 juta ton di mana kontribusi produksi CPO Indonesia berkisar antara 1,8-2 juta ton.

Tujuh hambatan tersebut membuat industri sawit akan kesulitan melakukan ekspansi dan atau mengalami penurunan daya saing jika hambatan tersebut tidak dihilangkan.

Hambatan tersebut adalah pertama pelaku sawit menghadapi masalah lahan bagi pengembangan kebun baru yang diakibatkan ketidaktuntasan masalah tata ruang nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP).

"Selain, adanya ketidakpastian hukum terhadap status legalitas lahan. Kondisi ini membuat pemegang konsesi dan investor memilih sikap 'wait and see' yang tentu saja akan berdampak kepada tingkat ekspansi lahan," ujar Fadhil.

Kedua, kebijakan moratorium hutan primer dan lahan gambut malahan dapat mempersulit penuntasan masalah lahan yang sebelumnya telah dihadapkan dengan masalah RTRWP. Dalam pandangan Gapki, Inpres mengenai moratorium akan bertabrakan dengan regulasi lain seperti UU Nomor 41 Tahun 1999 mengenai Kehutanan. Atas dasar itulah, kebijakan moratorium menjadi kontraproduktif bagi pengembangan investasi kelapa sawit.

"Meskipun pemerintah menyediakan lahan terdegradasi seluas 35,2 juta ha tetapi status areal tersebut masih meragukan karena termasuk kawasan hutan," jelas Fadhil.

Ketiga, bea keluar CPO yang tinggi dan bersifat progresif seperti berlaku sekarang ini terbukti tidak maksimal untuk menekan volume ekspor CPO dan belum mampu mendorong pengembangan industri hilir dalam negeri.

Sebaliknya, sistem bea keluar diyakini tidak adil bagi produsen bahan baku baik perkebunan negara/swasta maupun petani rakyat karena 'tidak menikmati' kenaikan margin yang seharusnya didapatkan dari tingginya harga CPO dunia saat ini. Jadi tidak tepat apabila bea keluar dijadikan instrumen utama karena sebenarnya industri hilir lebih membutuhkan insentif yang tepat dan menarik.

Keempat, pengembangan perkebunan kelapa sawit yang mengarah ke Indonesia Timur kurang didukung infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan. Semestinya terdapat satu pelabuhan ekspor CPO di Kalimantan untuk memudahkan penjualan CPO ke luar negeri. Dengan pertimbangan, total produksi CPO dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi telah mencapai 30% dari produksi nasional.

"Diharapkan pula pembangunan klaster industri segera direalisasikan untuk pengembangan industri hilir kelapa sawit," kata Fadhil.

Kelima, pelaku usaha sawit merasa dirugikan dengan penerapan aturan perpajakan mengenai PPn atas produk primer TBS. Pasalnya, PPn TBS selama ini dibebaskan sehingga pajak masukan atas barang-barang faktor produksi tidak bisa dikreditkan dan menjadi beban tambahan. Akibatnya, menimbulkan pajak berganda (double taxation) kepada perusahaan yang terintegrasi (produksi-pengolahan).

Keenam, kampanye anti-sawit tetap berlangsung bahkan ada kemungkinan semakin kuat tekanan yang diberikan kepada pelaku industri sawit. Tema kampanye anti-sawit masih dikaitkan dengan isu perubahan iklim maupun kerusakan lingkungan secara umum.

Rangkaian kampanye anti-sawit ini akan semakin sistematik yang tidak saja dilakukan oleh NGO saja melainkan oleh group consumer tertentu dan beberapa negara di Uni Eropa, lewat pemberlakukan standar baru dalam perdagangan sawit dan menerapkan aturan yang berbentuk non-tariff barier.

Ketujuh, Indonesia harus melakukan program mitigasi perubahan iklim dengan kekuatan sendiri tanpa melibatkan bantuan asing. Pelibatan dana asing hanya akan membuat Indonesia makin tergantung pada negara lain, sementara dana bantuan asing belum tentu memberikan dampak langsung pada penyerapan tenaga kerja dan pengurangan keniskinan.

Mencermati peningkatan permintaan pasar minyak nabati dunia yang terus meningkat dan melihat bahwa semua minyak nabati dunia melakukan ekspansi produksi, maka minyak sawit Indonesia tidak boleh berhenti ekspansi jika tidak mau kehilangan peluang pasar dan kehilangan momentum membangun perekonomian nasional.

"Oleh karena itu, semestinya pemerintah membuat iklim yang kondusif dengan membuat terobosan kebijakan sebagai upaya mengatasi hambatan yang dihadapi pelaku industri sawit nasional," tukas Fadhil.detik.com

Selasa, 26 April 2011

Olahan Jamur Tiram Putih


Olahan jamur tiram putih tembus pasar ekspor

Keripik jamur tiram putih produksi petani jamur tiram di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, berhasil menembus pasar luar negeri.
Salah satu pembudi daya jamur tiram putih dari Kresek, Tri Sugianto mengatakan, tingginya peminat keripik jamur tiram putih ini telah mampu membawanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun permintaan luar negeri.
“Bahkan tingginya permintaan pasar tersebut sempat membuat kami kewalahan karena terbentur oleh terbatasnya bahan baku,” ujar Tri Sugianto seperti dikutip Antara, Jumat (31/12).
Menurut dia, bahan baku keripik jamur tersebut merupakan hasil budidaya sendiri di rumahnya, serta dari sejumlah pembudidaya jamur tiram putih di beberapa daerah. Setiap hari usaha Tri mampu menghabiskan bahan baku jamur hingga 1 kwintal lebih.
“Dari bahan Bahan baku itu bisa menghasilkan keripik jamur hingga mencapai 20 kilo gram,” terang dia.
Kebutuhan sebanyak itu masih jauh untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini karena jumlah pembudidaya jamur tiram putih di wilayah Madiun masih sangat minim. Padahal, jika digeluti usaha ini cukup menjanjikan. Apalagi budidaya jamur tiram tergolong mudah.
Untuk membuat keripik jamur, setelah dipanen dari lumbungnya, jamur-jamur tersebut dibersihkan dari bonggolnya. Setelah bersih, jamur dipotong-potong dengan menggunakan gunting, lalu diberi bumbu sesuai selera dan digoreng hingga renyah.
Dikemas dengan berbagai rasa, keripik jamur ini dijual dengan harga Rp8.000,00 per ons. Pangsa pasar camilan keripik jamur tiram ini sendiri cukup menjanjikan, selain pasar antardaerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta, juga mulai merambah pasar luar negeri, di antaranya Malaysia dan Brunai Darusalam.
Pemasaran juga dilakukan di rumahnya sendiri dengan membuka kios. Apalagi lokasi usaha yang dikembangkan Sugiatno sejak dua tahun terkahir ini terletak di jalur kawasan wisata Monumen Kresek.
Selain karena rasanya yang cukup berbeda dengan keripik lainnya, camilan ini juga cukup diminati oleh kalangan vegetarian. Kedepan Tri ingin mengembangkan usaha berbagai makanan dari bahan baku jamur tiram putih lainnya, seperti sate jamur, krengsengan, serta sup jamur.
Usahanya ini, juga meningkatkan taraf ekonomi warga desa sekitar dengan penyerapan beberapa tenaga kerja yang dipekerjakan untuk mengurusi lumbung jamur hingga mengolah jamur.(Ant)
Oleh Dwi WahyuniDec 31, 2010

Tanah Kavling siap bangun dan Sejarah Arsitektur


Bangsal, Kota Kediri
utara rumah sakit babtis barat kantor kelurahan bangsal. di Banaran belakang SMA 3 Kediri dan di Semen Kab Kediri di atas Hotel Bukit Daun
Sejarah arsitektur
Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.
Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.
Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.
Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.
Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.
Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.
Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.
Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Siapa orang kaya?

orang kaya yang sebenarnya
Siapa orang kaya yang sebenarnya? Mereka bukanlah orang yang gemar membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang mahal. Bahkan banyak dari mereka yang berpenghasilan tinggi ternyata hidup sederhana. Contohnya Warren Buffett, investor dan pengusaha Amerika, yang menetap di rumahnya yang sederhana di Omaha, Nebraska. Uang yang mereka hasilkan diinvestasikan, sehingga kekayaan mereka semakin bertambah.

"Kekayaan adalah apa yang Anda akumulasikan, bukan yang Anda belanjakan," kata Thomas Stanley dan William Danko, penulis buku The Millionaire Next Door, yang pertama diterbitkan pada 1996.

Kekayaan orang-orang seperti ini biasanya dihasilkan dari upaya mereka sendiri. Dalam bukunya, mereka menuliskan, seringkali bukan keberuntungan, warisan, gelar yang tinggi, atau kecerdasan, yang membuat mereka kaya raya. "Kekayaan itu lebih sering karena gaya hidup kerja keras, ketekunan, perencanaan, dan lebih dari itu, kedisiplinan diri," tulis mereka.

Banyak cara untuk mendefinisikan kekayaan, namun umumnya orang menganggap kekayaan sebagai nilai segala sesuatu yang dimiliki, tanpa utang. Namun ada perbedaan antara aset yang dapat dipasarkan (hal-hal yang bisa dilikuidasi dengan cepat, seperti saham, obligasi, atau properti), dan barang-barang pribadi seperti mobil, pakaian, dan alat-alat rumah tangga yang Anda gunakan secara rutin dan tidak akan dijual.

Menurut Stanley dan Danko, gaji saja tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya. Gaji yang tinggi tentu membantu membangun kekayaan, namun orang yang mandiri secara finansial memandang gaji mereka sebagai alat untuk mencapai tujuan, yaitu meningkatkan uang.

"Orang kaya tidak menghabiskan uang mereka untuk pembelian yang bebas," kata Pam Danziger, pendiri Unity Marketing, firma penelitian pasar yang berspesialisasi dalam barang-barang mewah. "Mereka jadi kaya dengan memaksimalkan nilai investasi mereka."

Tentu, mereka juga masih menggunakan uangnya untuk membeli pakaian atau sepatu bermerek, tetapi hal itu dilakukan dengan penuh pertimbangan. Membeli pun lebih dilakukan karena nilai dan kualitasnya. "Mereka sangat menganggap berbelanja sebagai investasi, bukan pengeluran," tambahnya.

Perbedaan terbesar antara orang yang memiliki uang dan orang yang ingin punya uang adalah, bagaimana mereka membayar barang yang dibeli. Milyuner cenderung membeli secara tunai, tak peduli meski itu mobil, rumah, atau kapal pesiar. Hal ini mungkin sulit dilakukan oleh orang-orang yang masih menerima gaji rata-rata, tapi intinya sama: jangan berutang untuk membiayai gaya hidup Anda.

Mereka juga membuat perencanaan yang rapi, dan menghabiskan banyak waktu untuk itu. Banyak dari mereka yang menabung atau berinvestasi secara kompulsif, dan menganggap perjalanan menuju kekayaan itu jauh lebih menyenangkan daripada ketika mencapai tujuan tersebut.

Mereka sabar, dan bersedia berinvestasi untuk jangka panjang. Hal ini dilakukan karena mereka berusaha mandiri secara finansial. Ketika pensiun nanti, banyak dari mereka yang tahu persis berapa yang mereka butuhkan untuk melanjutkan hidup, untuk menyumbang, dan meninggalkan warisan.

Leslie Lassiter, direktur pelaksana JPMorgan Private Wealth Management, juga mengatakan, orang-orang kaya sangat mengerti berapa banyak likuidasi yang mereka butuhkan untuk menutup pengeluaran, dan memastikan mereka masih punya banyak uang tunai. "Seharusnya, itu juga dilakukan oleh rata-rata orang," katanya.
Sumber: Financially Fit

Minggu, 28 Maret 2010

Teologi Islam (Kalam)

Kelahiran ilmu teologi Islam (kalam) tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kuat filsafat Yunani, terutama ketika pada masa kekhalifahan Abbasiah. Lebih-lebih pada masa pemerintahan al-Makmun (penguasa Abbasiah ketujuh) ia dikenal mempunyai perhatian besar pada perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu filsafat. Ia sangat mengagumi karya-karya intelektual Yunani dan memerintahkan agar karya-karya itu diterjemahkan kedalam bahasa arab.-yang pusat studinya ketika itu di Dar alHikmah, Bagdad.

Bisa di mengerti kiranya jika pada masa itu perkanalan para ilmuwan muslim dengan alam pemikiran Yunani makin meluas dan mendalam, yang pada akhirnya akan menimbulkan perhatian dan hasrat di kalangan ilmuan muslim untuk mempelajari filsafat. Kemudian lahirlah gerakan pemikiran bebas (liberal) karena adanya tasamuh (toleransi) dari khalifah.
Kebebasan berpikir dan pengungkapan nalar rasional merupakan medium hujjah ketika itu. Sehingga nalar rasional sebagai asas dasar kefilsafatan mempunyai peranan fital tanpa batas sebagai preferensi oleh kebanyakan intelektual. Al-matthar bin Tahir adalah salah satu contoh dari adanya pengaruh besar dari peradaban filsafat Yunani ini. Dia tidak bisa menyembunyikan kepuasannya pada saat ia bisa merasionalkan salah satu kemukjizatan dengan dalil nalar rasionalnya.-yang ia anggap nalar rasional adalah sebagai pokok dari segala ilmu- ketika ia mampu mengungkapkan alasan rasional kepada orang-orang yang mengingkari hadits, tentang keterangkatan nabi idris kelangit, hal tersebut bukanlah suatu kemustahilan, atau bumi yang beratnya sedemikian rupa terangkat (mengawang-awang) walaupun tanpa tiang penyangga. Dan begitu juga pada saat ia mampu merasionalkan kepada orang-orang yang mengingkari kisah nabi Yunus berikut kemungkinan adanya sebuah jasad yang hidup di dalam perut seekor hewan -di mana hal yang demikian itu di alami oleh nabi Yunus- dengan beralasan “bukankah sebuah janin bisa hidup di dalam perut ibunya dengan bisa bernafas? bukankah hal itu bisa juga terdapat pada sebuah jasad yang berada dalam perut seekor hewan,seperti yang dialami nabi Yunus ketika ia di lemparkan ke tengah laut karna kesilapannya kepada Allah kemudian ditelan hidup-hidup dan keluar dari perut ikan dengan keadaan utuh pula.
Dengan berfilsafat yang penekanannya bertendensi kepada nalar rasional dengan tanpa batas (liberal) serta adanya tasamuh atau toleransi penuh dari khalifah maka bermunculanlah teolog-teolog muslim mutakallimin) yang titik penekanannya kepada pencarian rasionalisasi tentang hakikat kebenaran Tuhan, dzat Tuhan, dan sifat-sifatnya. Sehinnga pada masa puncak perkembangannya sampai kepada pengakuan yang benar-benar mengguncang dan menggemparkan bumi Islam< dimana al-qur`an tidak lagi di anggap sebagai kalam Allah yang kadim, akan tetapi di katakan sebagai makhluk ciptaan-Nya yang pada suatu saat nanti akan lenyap dan sirna. Serta kepada sebuah pengakuan bahwa besok pada hari kiamat nanti Allah tidak akan bisa di lihat oleh mata telanjang.
Pada masa awal-awal kemunculan Islam. Islam jauh atau terhindar dari hal-hal yang semacam ini dalam artian masih tabu terhadap penalaran rasional akal.
Perkembangan Islam tertolong oleh jauhnya kaum muslimin dari nalar rasional kritis terhadap teks-teks kitab sucinya. Dengan bertendensi kepada perkataan Nabi ketika sebagian para sahabat mempertanyakan keesensialan faham teologi al-Qur`an dengan sabdanya “kaum mana! Dengan sebab semacam ini- (mempertanyakan), ummat sebelum kalian di binasakan. Al-qur`an di turunkan bukan untuk membuat kalian bertentangan dengan isi sebagian dengan sebagian yang lainnya. Akan tetapi ia menguatkan isi sebagian dengan sebagian yang lainnya. maka apa yang kalian ketahahui dari al-Qur`an amalkanlah, dan apa yang samar-samar (tasyabuh) dari al-Qur`an atas kalian maka imanilah oleh kalian.
Dengan dalil sebagai muslim yang jujur dan patuh, maka meredalah pergolakan semacam ini dan mengambil rasa ketenangan dengan apa yang di perkatakan oleh nabi. (al-akidah wasy syariah fil Islam;70)
Pada perkembangan selanjutnya, sebagaimana filsafat yang penekanannya bertendensi kepada nalar rasional tanpa batas, maka para teolog muslim (mutakallimin) memandang terhadap segala sesuatu dan ingin mengetahui apa saja yang ada di balik itu semua. Dengan bersandar kepada akal rasionalnya, banyak dari para teolog muslim mengingkari tentang adanya sihir dengan segala berbagai macam bentuknya dan berbagai perbintangan. Bahkan mereka mengingkari adanya kekaromatan para kekasih allah (awliya il-lah). (Al-hadloroh al-Islamiyah;375. juz.1)
Dalam periode ini (kekhalifahan Abbasiah), obrolan serta diskusi-diskusi ringan ramai dimana-mana, mulai dari pinggiran-pinggiran kota, kedai-kedai, hingga ke istana Negara. Diskusi-diskusi serta obrolan-obrolan ringan ini tergelar secara umum dan berani. Imbasnya, keraguan akan keimanan atas ke Maha Absolutan Tuhan dan keagungan ajaran Islam menjangkit dimana-mana, terutama di kalangan orang-orang yang penguasaan ilmu agamanya masih dangkal. Lebih-lebih bagi kalangan orang-orang awam. Yang tidak mengerti betul akan bahasa arab serta lemahnya pemahaman terhadap lafadz-lafadz al-Qur`an dan kandungan maknanya.
Dari sini kiranya bisa dipahami, jika pergolakan akidah ketika itu lepas tak terkendali, lepas melesat bagai kuda-kuda kesetanan yang merobohkan kandangnya sendiri dan pergi tak tentu arah.
Para kalangan ulama salaf memandang bahwa al-Qur`an dan Sunnah Rasulnya telah lengkap dan cukup sebagai petunjuk jalan kebenaran, dan barang siapa yang mencari petunjuk selain dari keduanya maka ia akan menemui kesesatan.
Seperti apa yang dikatakan oleh as Suyuti; bahwa para kalangan sahabat dan tabi`in tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah kefilsafatan karna hal yang semacam ini tidak di kenal pada zaman mereka. Kefilsafatan ini di kenal pada masa abad ke dua dari hijriah (al-Aqidah bainal Wahyi wal Filsafah wal Ilm;234). Filsafat ini merupakan pondasi dasar yang menandai kelahiran teologi keIslaman.
Di riwayatkan dari asy-Syu`bi bahwasanya ia berkata; barang siapa yang mencari agama dengan jalan ilmu kalam (teologi) maka ia telah zindiq. Dan diriwayatkan sama seperti ini juga dari Abi Yusuf dan Malik bin Anas. (al-Aqidah baina alwahyu wal-filsafah wal-ilm; 245)


Maka seorang ahli hadits mengirimkan berita tentang hasil diskusi kepada khalifah Harun ar Rasyid. Maka muka Harun ar Rasyid merah padam dikuasai oleh kemarahan, kemudian ia berkata: lalu, untuk agama ini siapakah yang akan menjadi pembelanya?!. Maka ahli hadits berkata kepada Harun ar Rasyid; para ulama ilmu kalam (teologi) yang telah engkau tangkap dan engkau masukkan mereka kepenjara dan engkau larang mereka untuk berjadal (diskusi). Khalifah Harun ar Rasyid kemudian membebaskan mereka dan menyebarkan mereka ke penjuru bumi Islam, sebagai benteng dan pembela akidah ummat ini.
Dari sini bisa di lihat, bahwa sesungguhnya ilmu teologi (kalam)itu tiada lain untuk memurnikan Allah semata dan melepaskan prasangka-prasangka yang tidak layak bagi-Nya. Dan sebagai wasilah untuk menandingi dan mencegah segala bentuk ancaman yang mengada-ada (bid`ah) di kehidupan yang fana ini.